Aku terpikirkan itu lagi, Dira
Apakah saat ini kau sedang jatuh cinta?
Sudah kau tulis nama wanita entah siapa.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Cinta yang egois, seegois diriku,
Saat sejenak berpaling berpura-pura dirimu tak ada,
Sejenak berfikir tentang yang lain seolah kau 'kan baik-baik saja, seolah wanitanya tak 'kan terluka.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Cinta yang egois, seegois diriku,
Diriku yang tak mau kau hiasi hati dengan kenangan wanita lain,
Diriku yang tak rela kau bersama yang lain.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Kurasa aku sedang jatuh cinta.
Siapakah yang lebih hebat menahan rasa, kau atau aku?
Bukan, aku tak mau kau jatuh cinta.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Beritahu aku bagaimana caranya mengendalikan rasa.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Cinta yang egois, seegois diriku,
Aku tak mau kau jatuh cinta.
Ini untukmu, Dira sebab aku menyayangimu.
Kutuliskan untukmu, tiba-tiba aku merasa rindu.
Maafkan aku, membuatmu lama menunggu untuk semua keterlambatanku.
Dira, apa kau sedang jatuh cinta?
Cinta yang egois, seegois diriku,
Ingin kucuri semua cintamu.
Kurasa ada benang merah mengikat jariku, dan ujungnya ada di jarimu.
Kau tidak akan percaya, kini aku sedang tersenyum karenanya.
Kusebut kau Dira,
Hei, apa kau bodoh merasa sendiri disana entah dimana!
Aku ada disana, di sampingmu.
Omae no koto ga sukinanda yo, kono jyuuno dare yo rimo.
" Kamu cantik,"
Berbilang empat tahun lalu, saat pertama sms dari nomor tak dikenal masuk ke handphone-nya. Lantas disusul oleh sms telepon berikutnya, mulai menyebutkan hal-hal yang tidak pantas. Seorang pria tak dikenal itu, mulai mengirimkan fantasi seksualnya baik dalam bentuk pesan maupun suara. Pelecehan seksual by phone, bolehkah saya sebut demikian?
" Kenal saya darimana?"
" Saya pernah melihatmu di Masjid."
Hanya melihat, bagaimana bisa? Apa ia terlihat seperti perempuan yang "begitu"? Pikirnya, seraya menatap hijab yang ia kenakan. Apa yang salah darinya? Sikapnya pada lelaki? Ia selalu menjaga jaraknya dari laki-laki. Atau hijabnya? Ia selalu menjaga hijabnya untuk tetap syar'i. Secantik itukah dirinya hingga mampu membuat seorang pria mengaku jatuh hati pada pandangan pertama? Ia bahkan tak pintar berdandan. 59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Q. S. Al-Ahzab)
Berhijab berarti menahan keinginan diri untuk terlihat cantik. Berhijab berarti menjadi seseorang yang tidak mau menarik perhatian. Ia mulai memahami, hijab hanyalah sarana. Apakah tujuan berhijab akan tercapai ataukah tidak, berhijab hanyalah ikhtiar.
" Ketika kita telah memahami bahwa berhijab adalah sebuah ikhtiar, maka sia-sia saja hijab itu jika hanya dimaknai sebagai kain penutup kepala, kain penutup dada. Maka sia-sia saja hijab itu apabila tidak diikuti dengan menghijab hati, menghijab mata, menghijab telinga, menghijab hawa nafsu, menghijab perilaku, menghijab tutur kata, menghijab diri dari tindakan yang dapat merugikan orang lain. Ada yang harus kita sadari, hijab hanyalah sebuah awal. Sebuah awalan akan selalu menuntut adanya penyelesaian."
Bagaimana bisa seorang pria ( dengan penyakit di hatinya) mengaku jatuh hati pada ia hanya lewat sekilas pandang? Ia menelisik lagi, jauh ke dalam lubuk hati. Sudah benarkah niatnya berhijab selama ini? Masihkah ada keinginan untuk terlihat cantik di hadapan orang lain? Masihkah ada keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain? Jika masih ada, maka ia benar-benar belum mengerti hakikat berhijab yang sesungguhnya. Hijab terlalu sederhana untuk dipandang sebagai penutup kepala.
Menjadi
perempuan selalu tidak sesederhana yang saya bayangkan. Sejak akil baligh sudah menerima titah dari Raja Maha Tinggi, berhijab. Sering hati ini bertanya, bisakah terus menjaganya? Sebagai seorang wanita yang selalu punya keinginan untuk terlihat cantik, sebagai seorang wanita yang selalu punya rasa iri memandang kecantikan wanita lain. Sejauh mana diri ini bisa meredam keinginan untuk menjadi pusat perhatian? Di tengah rekan-rekan yang saling berlomba tampil mempesona.
Menyadari bahwa berhijab adalah upaya terus menerus untuk memperbaiki diri. Apa bisa saya menjalankan misi ini sampai akhir? Sedang di kiri kanan, satu dua teman, memilih untuk menyederhanakan pemahaman, bahkan memutuskan untuk berhenti melangkah. Di tengah stigma yang terlanjur terbangun, bahwa seorang wanita berhijab tak boleh bercela. Di antara satu dua celaan yang saya yakin akan selalu ada mengiringi setiap langkah dalam ketaatan pada-Nya.
Kutulis
catatan ini, dengan keresahan di setiap hurufnya. Tak henti hati ini berbisik mengiring setiap kata, " Apakah besok aku masih bisa menjaganya?"
Berbilang empat tahun lalu, saat pertama sms dari nomor tak dikenal masuk ke handphone-nya. Lantas disusul oleh sms telepon berikutnya, mulai menyebutkan hal-hal yang tidak pantas. Seorang pria tak dikenal itu, mulai mengirimkan fantasi seksualnya baik dalam bentuk pesan maupun suara. Pelecehan seksual by phone, bolehkah saya sebut demikian?
" Kenal saya darimana?"
" Saya pernah melihatmu di Masjid."
Hanya melihat, bagaimana bisa? Apa ia terlihat seperti perempuan yang "begitu"? Pikirnya, seraya menatap hijab yang ia kenakan. Apa yang salah darinya? Sikapnya pada lelaki? Ia selalu menjaga jaraknya dari laki-laki. Atau hijabnya? Ia selalu menjaga hijabnya untuk tetap syar'i. Secantik itukah dirinya hingga mampu membuat seorang pria mengaku jatuh hati pada pandangan pertama? Ia bahkan tak pintar berdandan. 59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Q. S. Al-Ahzab)
Berhijab berarti menahan keinginan diri untuk terlihat cantik. Berhijab berarti menjadi seseorang yang tidak mau menarik perhatian. Ia mulai memahami, hijab hanyalah sarana. Apakah tujuan berhijab akan tercapai ataukah tidak, berhijab hanyalah ikhtiar.
" Ketika kita telah memahami bahwa berhijab adalah sebuah ikhtiar, maka sia-sia saja hijab itu jika hanya dimaknai sebagai kain penutup kepala, kain penutup dada. Maka sia-sia saja hijab itu apabila tidak diikuti dengan menghijab hati, menghijab mata, menghijab telinga, menghijab hawa nafsu, menghijab perilaku, menghijab tutur kata, menghijab diri dari tindakan yang dapat merugikan orang lain. Ada yang harus kita sadari, hijab hanyalah sebuah awal. Sebuah awalan akan selalu menuntut adanya penyelesaian."
Bagaimana bisa seorang pria ( dengan penyakit di hatinya) mengaku jatuh hati pada ia hanya lewat sekilas pandang? Ia menelisik lagi, jauh ke dalam lubuk hati. Sudah benarkah niatnya berhijab selama ini? Masihkah ada keinginan untuk terlihat cantik di hadapan orang lain? Masihkah ada keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain? Jika masih ada, maka ia benar-benar belum mengerti hakikat berhijab yang sesungguhnya. Hijab terlalu sederhana untuk dipandang sebagai penutup kepala.
Menjadi
perempuan selalu tidak sesederhana yang saya bayangkan. Sejak akil baligh sudah menerima titah dari Raja Maha Tinggi, berhijab. Sering hati ini bertanya, bisakah terus menjaganya? Sebagai seorang wanita yang selalu punya keinginan untuk terlihat cantik, sebagai seorang wanita yang selalu punya rasa iri memandang kecantikan wanita lain. Sejauh mana diri ini bisa meredam keinginan untuk menjadi pusat perhatian? Di tengah rekan-rekan yang saling berlomba tampil mempesona.
Menyadari bahwa berhijab adalah upaya terus menerus untuk memperbaiki diri. Apa bisa saya menjalankan misi ini sampai akhir? Sedang di kiri kanan, satu dua teman, memilih untuk menyederhanakan pemahaman, bahkan memutuskan untuk berhenti melangkah. Di tengah stigma yang terlanjur terbangun, bahwa seorang wanita berhijab tak boleh bercela. Di antara satu dua celaan yang saya yakin akan selalu ada mengiringi setiap langkah dalam ketaatan pada-Nya.
Kutulis
catatan ini, dengan keresahan di setiap hurufnya. Tak henti hati ini berbisik mengiring setiap kata, " Apakah besok aku masih bisa menjaganya?"
Catatan Subjektif
Ntah saya yg baru nyadar atau emang baru-baru ini aja.. Satu dua dan seterusnya postingan di beranda bikin sedih saat dibaca. #kok jadi gini tulisannya -_-
*Saya tipe orang yg "memihak" juga, nggak netral. Termasuk soal politik, keyakinan. Saya ga bilang kampanye negatif itu tidak boleh. Hanya saja, belum menemukan alasan untuk membenarkannya. Setidaknya ada dua point yang membuat saya tidak menyukai negatif campaign. Pertama, negatif campaign berarti menyebarluaskan aib seseorang. Saya tidak punya kepahaman, pada konteks apa hal ini diperbolehkan. Kedua, negatif campaign, berefek negatif juga bagi pendukung yang fanatik buta.
uudahh saya bilang, saya memang "memihak". Termasuk soal "keyakinan", saya termasuk yang fanatik malah! Tapi, saya nggak suka kalau fanatisme keyakinan ini mulai dilempar ke ranah publik. Intern Islam, ada beda dari segi fiqh. Terus terang, saya juga memihak ke salah satu fiqh, tapi saya nggak suka saat ada yg melempar isu yg mengetengahkan suatu fiqh paling benar diantara yang lain. Meski itu fiqh yang saya yakini. Fanatik dalam "berkeyakinan" khususnya, bukanlah perkara menunjukkan mana fiqh yg benar dan mana fiqh yg salah. Cukuplah berfanatik dalam melaksanakan ibadah dengan fiqh yg diyakini, itu sudah super sekali. Kalau pun gatal rasanya ingin berbagi, silakan bikin grup diskusi
*** Sudah saya bilang, saya ini fanatik jika sudah menyangkut keyakinan. Jadi thread2 berbau begini kalo dilempar ke ranah publik, jujur saja bikin serba salah. Mau comment kog itu ruang publik, bukan tempat yg layak buat diskusi. Kalo nggak comment, tapi kog punya kewajiban untuk klarifikasi
**** Saya sering senyum2 sendiri kalo baca komentar2 di suatu thread negatif yang dilempar ke forum publik, ke forum pribadi apalagi! Buat saya pribadi, cara terbaik untuk menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap suatu thread adl dengan "mengabaikannya". Jika itu di ruang publik, maka hanya akan berujung pada debat kusir. Jika itu di ruang pribadi, page misalnya, ya terserah yang punya page kan mau nulis apa. Kalo nggak suka tinggal unfollow aja, selesai perkara
***** Saya juga sering ngepost yang nyleneh2.. Tapi nggak ada salahnya kan, milih tempat yg paling keren dan pantas buat postingan kita :) Apalagi kalau itu perkara sensitif yg bisa memicu perdebatan.
Ntah saya yg baru nyadar atau emang baru-baru ini aja.. Satu dua dan seterusnya postingan di beranda bikin sedih saat dibaca. #kok jadi gini tulisannya -_-
*Saya tipe orang yg "memihak" juga, nggak netral. Termasuk soal politik, keyakinan. Saya ga bilang kampanye negatif itu tidak boleh. Hanya saja, belum menemukan alasan untuk membenarkannya. Setidaknya ada dua point yang membuat saya tidak menyukai negatif campaign. Pertama, negatif campaign berarti menyebarluaskan aib seseorang. Saya tidak punya kepahaman, pada konteks apa hal ini diperbolehkan. Kedua, negatif campaign, berefek negatif juga bagi pendukung yang fanatik buta.
uudahh saya bilang, saya memang "memihak". Termasuk soal "keyakinan", saya termasuk yang fanatik malah! Tapi, saya nggak suka kalau fanatisme keyakinan ini mulai dilempar ke ranah publik. Intern Islam, ada beda dari segi fiqh. Terus terang, saya juga memihak ke salah satu fiqh, tapi saya nggak suka saat ada yg melempar isu yg mengetengahkan suatu fiqh paling benar diantara yang lain. Meski itu fiqh yang saya yakini. Fanatik dalam "berkeyakinan" khususnya, bukanlah perkara menunjukkan mana fiqh yg benar dan mana fiqh yg salah. Cukuplah berfanatik dalam melaksanakan ibadah dengan fiqh yg diyakini, itu sudah super sekali. Kalau pun gatal rasanya ingin berbagi, silakan bikin grup diskusi
*** Sudah saya bilang, saya ini fanatik jika sudah menyangkut keyakinan. Jadi thread2 berbau begini kalo dilempar ke ranah publik, jujur saja bikin serba salah. Mau comment kog itu ruang publik, bukan tempat yg layak buat diskusi. Kalo nggak comment, tapi kog punya kewajiban untuk klarifikasi
**** Saya sering senyum2 sendiri kalo baca komentar2 di suatu thread negatif yang dilempar ke forum publik, ke forum pribadi apalagi! Buat saya pribadi, cara terbaik untuk menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap suatu thread adl dengan "mengabaikannya". Jika itu di ruang publik, maka hanya akan berujung pada debat kusir. Jika itu di ruang pribadi, page misalnya, ya terserah yang punya page kan mau nulis apa. Kalo nggak suka tinggal unfollow aja, selesai perkara
***** Saya juga sering ngepost yang nyleneh2.. Tapi nggak ada salahnya kan, milih tempat yg paling keren dan pantas buat postingan kita :) Apalagi kalau itu perkara sensitif yg bisa memicu perdebatan.
Copyright: Nugroho Iriyanto, Direktur Majalah Oase
Saifuddin Al-Muzhaffar Quthuz, pemimpin Mesir, menerima surat yang dibawa utusan Hulagu Khan:
Surat itu datang tidak lama setelah Hulagu Khan beserta pasukan Mongol
menghancurkan Baghdad hanya dalam waktu 40 hari.
Kekhalifahan Abbasiyah yang telah berumur 500 tahun hancur dalam sekejap.
1,8 juta kaum muslimin Baghdad dibantai dan dibuat gunung tengkorak untuk menjadi peringatan
bagi negeri-negeri yang melawan kekuatan Mongol.
Al-Quthuz bergerak cepat.
Syaikh Al-Izz bin Abdis Salam, seorang ulama senior mengeluarkan fatwa
bahwa seluruh kaum muslimin wajib berkontribusi harta untuk membantu peperangan.
Dengan syarat tidak ada lagi asset yang tersimpan di Baitul Mal.
Semua warga negara memiliki kewajiban yang sama.
Selanjutnya Al-Quthuz menginstruksikan agar semua pejabat dan pimpinan mempelopori
untuk menyerahkan harta untuk peperangan.
Penyerahan harta oleh para pejabat dan pimpinan negara ini
diikuti pula secara serempak oleh seluruh rakyat.
'Ain Jalut menjadi saksi perjuangan para perindu surga.
20.000 tentara muslim dari Mesir dan Syams berhadapan dengan pasukan Tartar
yang terkenal kuat, kejam, dan memiliki reputasi tidak pernah terkalahkan.
Pertempuran dahsyat pun terjadi, Jumat 25 Ramadhan 658 H adalah saat kehancuran pasukan Tartar
di ujung pedang kaum muslim, dan tidak pernah mampu lagi menebus kekalahan mereka.
Al-Quthuz dan pasukannya telah menghentikan petualangan mereka
yang sebelumnya telah menghancurleburkan Baghdad, Syria, dan hampir seluruh Asia Tengah.
Pada peperangan 'Ain Jalut ini Al Quthuz didampingi istrinya, Jullanar,
yang turut serta dalam rombongan pasukannya.
Dalam keadaan terluka parah, Jullanar tetap memberi semangat kepada suaminya,
" Wahai Al Quthuz, lebih cintalah engkau kepada jihad ini."
Lalu istrinya menghembuskan nafas terakhir.
Pesan terakhir sang istri memberikan kesan jiwa yang dahsyat
sehingga Al-Quthuz segera melepaskan topeng besinya,
maju menerjang musuh, hingga mendapatkan kemenangan.
Saifuddin Al-Muzhaffar Quthuz, pemimpin Mesir, menerima surat yang dibawa utusan Hulagu Khan:
Dari Raja Timur dan Barat, Khan Agung.
Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami.
Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir,
hati kami sekeras gunung, tentara kami banyak seperti pasir.
Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan anda tidak dapat menghentikan laju kami.
Doa anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami.
Kami tidak akan digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan.
Hanya orang yang mohon perlindungan akan aman.
Percepat balasan anda sebelum api perang dinyalakan.
Menolak, anda akan menderita bencana yang paling mengerikan.
Kami akan menghancurkan masjid anda dan mengungkap kelemahan Tuhanmu.
Dan kami akan membunuh anak-anak dan orangtua anda bersama-sama.
Saat ini andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.
Surat itu datang tidak lama setelah Hulagu Khan beserta pasukan Mongol
menghancurkan Baghdad hanya dalam waktu 40 hari.
Kekhalifahan Abbasiyah yang telah berumur 500 tahun hancur dalam sekejap.
1,8 juta kaum muslimin Baghdad dibantai dan dibuat gunung tengkorak untuk menjadi peringatan
bagi negeri-negeri yang melawan kekuatan Mongol.
Al-Quthuz bergerak cepat.
Syaikh Al-Izz bin Abdis Salam, seorang ulama senior mengeluarkan fatwa
bahwa seluruh kaum muslimin wajib berkontribusi harta untuk membantu peperangan.
Dengan syarat tidak ada lagi asset yang tersimpan di Baitul Mal.
Semua warga negara memiliki kewajiban yang sama.
Selanjutnya Al-Quthuz menginstruksikan agar semua pejabat dan pimpinan mempelopori
untuk menyerahkan harta untuk peperangan.
Penyerahan harta oleh para pejabat dan pimpinan negara ini
diikuti pula secara serempak oleh seluruh rakyat.
'Ain Jalut menjadi saksi perjuangan para perindu surga.
20.000 tentara muslim dari Mesir dan Syams berhadapan dengan pasukan Tartar
yang terkenal kuat, kejam, dan memiliki reputasi tidak pernah terkalahkan.
Pertempuran dahsyat pun terjadi, Jumat 25 Ramadhan 658 H adalah saat kehancuran pasukan Tartar
di ujung pedang kaum muslim, dan tidak pernah mampu lagi menebus kekalahan mereka.
Al-Quthuz dan pasukannya telah menghentikan petualangan mereka
yang sebelumnya telah menghancurleburkan Baghdad, Syria, dan hampir seluruh Asia Tengah.
Pada peperangan 'Ain Jalut ini Al Quthuz didampingi istrinya, Jullanar,
yang turut serta dalam rombongan pasukannya.
Dalam keadaan terluka parah, Jullanar tetap memberi semangat kepada suaminya,
" Wahai Al Quthuz, lebih cintalah engkau kepada jihad ini."
Lalu istrinya menghembuskan nafas terakhir.
Pesan terakhir sang istri memberikan kesan jiwa yang dahsyat
sehingga Al-Quthuz segera melepaskan topeng besinya,
maju menerjang musuh, hingga mendapatkan kemenangan.
Cinta adalah sumber kekuatan jiwa yang dahsyat. Akan tetapi,
ketergantungan adalah sumber kelemahan jiwa yang fatal, dan merupakan sumber kehancuran.
Itulah sebabnya Abu Bakar As-Shiddiq pernah menyuruh anaknya, Abdullah, menceraikan istrinya.
Itu karena beliau melihat bahwa anaknya terlalu mencintai istrinya,
dan cintanya berubah menjadi semacam ketergantungan.
Ketergantungan itu membuatnya takut berpisah dengan istrinya,
bahkan walau sekadar melakukan shalat jamaah di masjid.
Mari kita bicara tentang perasaan,
perasaanku, perasaanmu, perasaannya, perasaan kita.
Mari kita bicara tentang cinta, tentang benci,
cintaku benciku, cintamu bencimu, cintanya bencinya, cinta benci kita.
Mari kita bicara tentang luka, tentang dendam,
lukaku dendamku, lukamu dendammu, lukanya dendamnya, luka dendam kita.
Mari kita bicara, ....
" Luka tamparan elo kemaren mungkin besok udah ilang, tapi luka di hatinye kagak bisa ilang.
Biar kate lo udah minta maaf, mungkin di depan dimaafin ama die karena die takut.
Dua orang yang lo tampar kemarin, akan sakit hati selame-lamenye.
Itu yang minta amalan lo di akhirat. Iya kalo amalan lo banyak!
Nih, kandang ayam buat lo.
Jangan cuma ayam aja yang lo kandangin, kandangin juga nafsu lo."
Itu nasehat alm. K.H. Rahmat Abdullah untuk adiknya. Pasti kamu juga sudah tahu, bukan?
Benar bahwa luka di hati tidak akan pernah bisa hilang.
Tapi kenyataan ini bukanlah untuk dijadikan pembenaran bagi diri kita
guna mengingat-ingatnya, menyimpan dendam, kebencian kepada orang lain.
Kalau kita sungguh memahami bahwa luka di hati kita bersifat kekal,
maka semestinya kita menjaga diri untuk tidak lakukan hal serupa.
Kalau kita sungguh memahami bahwa luka di hati bersifat kekal,
bahwa pemberian maaf yang tulus itu nyaris tak mungkin;
semestinya kita mulai menahan diri dengan melupakan luka di hati,
berusaha memberikan maaf bagi orang lain dengan setulus hati,
agar hal serupa tidak terulang pada diri kita.
Bukankah kita juga ingin dimaafkan ketika kita berbuat salah?
Mari kita bicara kepada hati, sungguhkah ia sudah mengerti?
Tentang luka yang abadi, tentang maaf yang sering tak setulus hati.
Lalu memulai saling bicara dari hati ke hati.
Maafkan aku yang tak bisa selalu memahami hatimu.
perasaanku, perasaanmu, perasaannya, perasaan kita.
Mari kita bicara tentang cinta, tentang benci,
cintaku benciku, cintamu bencimu, cintanya bencinya, cinta benci kita.
Mari kita bicara tentang luka, tentang dendam,
lukaku dendamku, lukamu dendammu, lukanya dendamnya, luka dendam kita.
Mari kita bicara, ....
" Luka tamparan elo kemaren mungkin besok udah ilang, tapi luka di hatinye kagak bisa ilang.
Biar kate lo udah minta maaf, mungkin di depan dimaafin ama die karena die takut.
Dua orang yang lo tampar kemarin, akan sakit hati selame-lamenye.
Itu yang minta amalan lo di akhirat. Iya kalo amalan lo banyak!
Nih, kandang ayam buat lo.
Jangan cuma ayam aja yang lo kandangin, kandangin juga nafsu lo."
Itu nasehat alm. K.H. Rahmat Abdullah untuk adiknya. Pasti kamu juga sudah tahu, bukan?
Benar bahwa luka di hati tidak akan pernah bisa hilang.
Tapi kenyataan ini bukanlah untuk dijadikan pembenaran bagi diri kita
guna mengingat-ingatnya, menyimpan dendam, kebencian kepada orang lain.
Kalau kita sungguh memahami bahwa luka di hati kita bersifat kekal,
maka semestinya kita menjaga diri untuk tidak lakukan hal serupa.
Kalau kita sungguh memahami bahwa luka di hati bersifat kekal,
bahwa pemberian maaf yang tulus itu nyaris tak mungkin;
semestinya kita mulai menahan diri dengan melupakan luka di hati,
berusaha memberikan maaf bagi orang lain dengan setulus hati,
agar hal serupa tidak terulang pada diri kita.
Bukankah kita juga ingin dimaafkan ketika kita berbuat salah?
Mari kita bicara kepada hati, sungguhkah ia sudah mengerti?
Tentang luka yang abadi, tentang maaf yang sering tak setulus hati.
Lalu memulai saling bicara dari hati ke hati.
Maafkan aku yang tak bisa selalu memahami hatimu.
Ada hal-hal yang sebaiknya tidak kita pikirkan,
mungkin itu tentang sikap orang lain, atau tentang perasaan kita sendiri.
Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan mengalir bersama takdir,
tidak perlu dirisaukan, tidak perlu juga disampaikan.
Kadang, satu detik dibutuhkan untuk berpikir,
apakah sebaiknya suatu hal dieksekusi atau dilupakan saja.
Tapi ada hal-hal yang memang harus disampaikan,
meski kadang terlihat remeh, tidak penting,
tapi jika kita tidak yakin dapat melupakannya,
maka sebaiknya dikatakan saja.
Disampaikan, tapi bukan untuk dikenang.
Disampaikan, untuk dibuat T-I-T-I-K nya.
Maka besok, lusa, ... jejaknya pun tiada.
mungkin itu tentang sikap orang lain, atau tentang perasaan kita sendiri.
Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan mengalir bersama takdir,
tidak perlu dirisaukan, tidak perlu juga disampaikan.
Kadang, satu detik dibutuhkan untuk berpikir,
apakah sebaiknya suatu hal dieksekusi atau dilupakan saja.
Tapi ada hal-hal yang memang harus disampaikan,
meski kadang terlihat remeh, tidak penting,
tapi jika kita tidak yakin dapat melupakannya,
maka sebaiknya dikatakan saja.
Disampaikan, tapi bukan untuk dikenang.
Disampaikan, untuk dibuat T-I-T-I-K nya.
Maka besok, lusa, ... jejaknya pun tiada.
terkadang Allah memberikan bencana kepada seseorang tidak lain hanya demi menghindarkannya dari bencana yang lebih besar. (ust. yusuf mansyur--red. Wiga Putri) sayang sekali, terlalu sering seseorang tersebut terburu-buru berburuk sangka kepada Allah. seseorang itu bisa jadi dia, mereka, kamu, dan lebih pasti AKU.
Ibrahim a.s. meninggalkan bunda Hajar dan putra beliau Ismail a.s. yang masih bayi di tengah padang pasir--dengan sekantong kurma dan sekantong air--tanpa menoleh ke belakang. Apa jadinya jika bunda Hajar tidak ridho atas titah Tuhannya? Titah yang bulat, tanpa penjelasan. Kita semua tahu, padang pasir tersebut adalah Makkah. Tempat dimana peradaban Islam dibangun tak lain oleh keturunan Ismail a.s., ya, dia Muhammad s.a.w. bertahun-tahun kemudian.
" Tidak akan salah Allah meletakkan takdir seorang hamba."
#mengingatkan diri sendiri
Ibrahim a.s. meninggalkan bunda Hajar dan putra beliau Ismail a.s. yang masih bayi di tengah padang pasir--dengan sekantong kurma dan sekantong air--tanpa menoleh ke belakang. Apa jadinya jika bunda Hajar tidak ridho atas titah Tuhannya? Titah yang bulat, tanpa penjelasan. Kita semua tahu, padang pasir tersebut adalah Makkah. Tempat dimana peradaban Islam dibangun tak lain oleh keturunan Ismail a.s., ya, dia Muhammad s.a.w. bertahun-tahun kemudian.
" Tidak akan salah Allah meletakkan takdir seorang hamba."
#mengingatkan diri sendiri
![]() #1. PETE/PET |
PETE
atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik
tembus pandang/transparan seperti botol air mineral, botol minuman, botol
jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol sambal, botol obat, dan botol
kosmetik dan hampir semua botol minuman lainnya. Untuk pertekstilan, PET
digunakan untuk bahan serat sintetis atau lebih dikenal dengan polyester
PETE/PET direkomendasikan HANYA UNTUK SEKALI PAKAI. Penggunaan berulang kali terutama pada kondisi panas akan menyebabkan melelehnya lapisan polimer dan keluarnya zat karsinogenik dari bahan plastik tersebut, sehingga dapat menyebabkan kanker untuk penggunaan jangka panjang. |
![]() #2. HDPE |
HDPE
(high density polyethylene) memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras,
buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi.
HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan jerigen pelumas dan lain-lain. Walaupun demikian HDPE hanya direkomendasikan untuk sekali pakai, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan HDPE bila ditekan tidak kembali ke bentuk semula. |
![]() #3 PVC |
PVC
(polyvinyl chloride), yaitu jenis
plastik yang
paling sulit didaur ulang. Jenis
plastik PVC
ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), untuk mainan,
selang, pipa bangunan, taplak meja plastik, botol kecap, botol sambal dan
botol sampo
PVC mengandung DEHA yang berbahaya bagi kesehatan. Makanan yang dikemas dengan plastik berbahan dapat terkontaminasi karena DEHA lumer pada suhu -15oC |
![]() #4. LDPE |
LDPE
(low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat
dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan
botol-botol yang lembek. LDPE dipakai untuk tutup plastik, kantong/tas kresek
dan plastik tipis lainnya. Walaupun baik untuk tempat makanan, barang
berbahan LDPE ini sulit dihancurkan. Selain itu pada suhu di bawah 60oC
sangat resisten terhadap senyawa kimia.
|
![]() #5. PP |
Jenis
PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk
tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, tutup botol, cup
plastik, mainan anak, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Bahan yang terbuat dari PP bila ditekan akan kembali ke bentuk semula. |
![]() #6 PS |
PS
(polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat
minum sekali pakai seperti sendok, garpu gelas, dan lain-lain. Polystyrene
dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut
bersentuhan. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan, selain itu bahan ini sulit
didaur ulang. Banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat
makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
|
![]() #7. OTHER |
Untuk
jenis
plastik 7
Other ini ada 4 jenis, yaitu : SAN (styrene acrylonitrile), ABS
(acrylonitrile butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon.
SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan sehingga merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. PC atau Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berbahaya bagi kesehatan sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai tempat makanan ataupun minuman . Ironisnya banyak botol susu yang terbuat dari PC dan sangat mungkin mengalami proses pemanasan untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas. |
Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak
sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.
Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal
Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka
'majnun' lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu
sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati
Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!
~ Anis Matta ~
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati
Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!
~ Anis Matta ~
Iman itu laut, cinta lah ombaknya
Iman itu api, cinta lah panasnya
Iman itu angin, cinta lah badainya
Iman itu salju, cinta lah dinginnya
Iman itu sungai, cinta lah arusnya
Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri,
memenangkan iman atas syahwatnya sendiri.
Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka.
Cinta selalu bekerja dengan cara itu ^^
# Anis Matta #
Iman itu api, cinta lah panasnya
Iman itu angin, cinta lah badainya
Iman itu salju, cinta lah dinginnya
Iman itu sungai, cinta lah arusnya
Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri,
memenangkan iman atas syahwatnya sendiri.
Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka.
Cinta selalu bekerja dengan cara itu ^^
# Anis Matta #
"Kalau aku adalah Muhammad," kata Iqbal, "aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha."
Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta.
Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia ber
Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta.
Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia ber
doa
setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya
berdarah: "Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka
tidak mengetahui."
Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: "Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan," katanya ksatria.
#Anis Matta -- Pesona Sang Nabi#
Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: "Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan," katanya ksatria.
#Anis Matta -- Pesona Sang Nabi#
1. diturunkan ketika sahabat2 Nabi akan hijrah dari Mekkah menuju negeri Kristen di Habash.
2. adalah surat yang menjadi tempat bertemunya kata Adam dan Isa, masing dalam bentuk kata yang ke-19 di dalam Al-Quran.
3. Adam a.s. dan Isa a.s. sama-sama diciptakan tanpa proses reproduksi normal. (Ali Imran-59)
4. kata Adam dan Isa sama-sama 25 kali disebut di dalam Al-Quran, surat Maryam memiliki 25 nomor ayat bilangan prima,
kata Maryam pada ayat ke-34 merupakan kata Maryam yang ke-25 yang disebutkan dalam Al-Quran,
kata Maryam disebut 34 kali dalam Al-Quran.
5. kata Allah disebut pertama kali dalam surat ini pada ayat-30 (bilangan komposit ke-19), kata Allah disebutkan 8 kali
dalam surat ini, kata Allah disebut 2.698 (19x142) dalam Al-Quran.
6. dalam Matematika angka 8 dan angka 19 saling terhubung yakni sebagai bilangan komposit dan bilangan prima kembar.
bilangan komposit ke-152 adalah 198 dimana 152 = 19x8, tak kalah unik dengan jumlah ayat Al-Quran 114 dimana
bilangan prima ke 114 adalah 619, kita tahu bahwa 114 = 6x19.
Arifin Muftie-Matematika Alam Semesta
semoga bermanfaat, salam DAHSYAT Matematika ^^
2. adalah surat yang menjadi tempat bertemunya kata Adam dan Isa, masing dalam bentuk kata yang ke-19 di dalam Al-Quran.
3. Adam a.s. dan Isa a.s. sama-sama diciptakan tanpa proses reproduksi normal. (Ali Imran-59)
4. kata Adam dan Isa sama-sama 25 kali disebut di dalam Al-Quran, surat Maryam memiliki 25 nomor ayat bilangan prima,
kata Maryam pada ayat ke-34 merupakan kata Maryam yang ke-25 yang disebutkan dalam Al-Quran,
kata Maryam disebut 34 kali dalam Al-Quran.
5. kata Allah disebut pertama kali dalam surat ini pada ayat-30 (bilangan komposit ke-19), kata Allah disebutkan 8 kali
dalam surat ini, kata Allah disebut 2.698 (19x142) dalam Al-Quran.
6. dalam Matematika angka 8 dan angka 19 saling terhubung yakni sebagai bilangan komposit dan bilangan prima kembar.
bilangan komposit ke-152 adalah 198 dimana 152 = 19x8, tak kalah unik dengan jumlah ayat Al-Quran 114 dimana
bilangan prima ke 114 adalah 619, kita tahu bahwa 114 = 6x19.
Arifin Muftie-Matematika Alam Semesta
semoga bermanfaat, salam DAHSYAT Matematika ^^
1. Angka 5 (kewajiban shalat dalam satu
hari) dan 17 (jumlah rakaat) adalah bilangan prima. Angka 17 adalah
bilangan prima kembar, pasangan bilangan 19.
2. Digit tiap rakaat sembahyang merupakan cerminan kodetifikasi angka 19, dengan jumlah tetap 17, dimulai dari awal yaitu subuh.
24434 = 19 x 7286, di mana: 2 + 4 + 4 + 3 + 4 = 1 + 2 + 8 + 6 = 17
2. Digit tiap rakaat sembahyang merupakan cerminan kodetifikasi angka 19, dengan jumlah tetap 17, dimulai dari awal yaitu subuh.
24434 = 19 x 7286, di mana: 2 + 4 + 4 + 3 + 4 = 1 + 2 + 8 + 6 = 17
3. Kata shalat yang ke-19 dari 99 kali penyebutan, diletakkan dalam urutan surat dan ayat yang ke-17.
4. Kodetifikasi juga ditunjukkan dengan bentuk 17 ayat pertemuan kata Allah dengan kata shalat dalam al-Qur'an. Dalam 17 ayat tersebut terdapat 19 kata shalat.
5. Kata shalat ke-19 dari urutan belakang; di surat 2 ayat 83 berhubungan dengan struktur kalimat basmallah, dan struktur surat-surat fawatih. Ayat tersebut "kebetulan" terdiri dari 29 kata. Enkripsi terlihat bila nomor surat, ayat, dan banyaknya kata dalam ayat dijumlahkan:
2 + 83 + 29 = 114 atau (19 x 6)
Muhammad saw kembali dari perjalanan malam, Isra' Mi'raj, dengan petunjuk Ilahi yang tegas tentang kewajiban shalat:17 rakaat sehari. Kewajiban ini diketahui oleh kaum Muslim dari generasi ke generasi. Barangkali yang tidak diketahui adalah bahwa bilangan 17 ini "dikodekan" dalam nomor Surat al-Isra', yaitu nomor 17.
Arifin Muftie -- Matematika Alam Semesta
semoga bermanfaat ^^
4. Kodetifikasi juga ditunjukkan dengan bentuk 17 ayat pertemuan kata Allah dengan kata shalat dalam al-Qur'an. Dalam 17 ayat tersebut terdapat 19 kata shalat.
5. Kata shalat ke-19 dari urutan belakang; di surat 2 ayat 83 berhubungan dengan struktur kalimat basmallah, dan struktur surat-surat fawatih. Ayat tersebut "kebetulan" terdiri dari 29 kata. Enkripsi terlihat bila nomor surat, ayat, dan banyaknya kata dalam ayat dijumlahkan:
2 + 83 + 29 = 114 atau (19 x 6)
Muhammad saw kembali dari perjalanan malam, Isra' Mi'raj, dengan petunjuk Ilahi yang tegas tentang kewajiban shalat:17 rakaat sehari. Kewajiban ini diketahui oleh kaum Muslim dari generasi ke generasi. Barangkali yang tidak diketahui adalah bahwa bilangan 17 ini "dikodekan" dalam nomor Surat al-Isra', yaitu nomor 17.
Arifin Muftie -- Matematika Alam Semesta
semoga bermanfaat ^^
-salam dahsyat Matematika-
“ … dan Dia
menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Q.S. al-Jinn:28)
Hanya 30 bilangan saja yang disebut alQur'an, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
8, 9,10,11,12,19,20,30,40,50,60, 70, 80, 99, 100, 200, 300, 1.000, 2.000,
3.000, 5.000, 50.000, dan 100.000. Jumlah angka tersebut 162.146
atau (19 x 8.534)
Paling menarik, penyebutan angka 30 dalam al-Qur'an hanya dua kali, yaitu
diposisikan pada Surat al-A'raf, "tempat tinggi”, (QS 7: 142) dan Surat
al-Ahqaf, "bukit-bukit pasir", (QS 46: 15). Jika dihitung jumlah
digit nomor surat dan nomor ayatnya, maka jumlahnya adalah 7 + 1 + 4 + 2 + 4 +
6 + 1 + 5 = 30. Luar biasa, bukan?
Lalu mengapa angka 19 yang menonjol? Menurut mufasir modern, angka 19
berhubungan dengan kata Wahid dalam al-Qur'an atau berhubungan
dengan simbol ke-Esa-an Tuhan, di mana jumlah nilai gramatikalnya W = 6, A = 1,
H' = 8, D = 4, total 19. Dari segi bahasa, kata wahida, berasal dari
kata wahada yang berarti "tak terbilang" atau "awal dari
bilangan". Kata Wahid dalam al-Qur'an disebut 20 kali, tetapi yang berhubungan
dengan "Ke-Esa-an Tuhan" hanya 19 kali. Sisanya 1 kali, menyatakan
bilangan yang berarti satu. Dengan demikian, beberapa mufasir ahli matematika,
seperti Dr. Tariq, berpendapat bahwa angka 19 ini bisa diartikan simbol atau cap keesaan
Tuhan. Dari sisi struktur
bilangan, pola 19 + 1 mengingatkan kita akan struktur asam amino pada DNA
manusia: 19 simetris berpasangan dan 1 asimetris tidak berpasangan.
Kupikir benar kata Galilea (1564-1642 M), “ Matematika adalah bahasa Tuhan ketika Dia menulis alam semesta.” ^^
Salam dahsyat Matematika!
Jalan Ini…
Al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih,
Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya.
Sungguh, terlalu indah kata teruntai,
betapa bijak dan indah rangkaian kata terucap,
hingga aku mengira terdapat ruh dalam setiap kata,
sejatinya hanya rangkaian kata biasa,
lalu, apa yang membuat ia begitu hidup?
Lama, sunyi, tiada jawab.
Aku terus melangkah, jauh dan semakin jauh,
Kubiarkan segala tanya terikat, masih tanpa jawab,
Aku makin tak tentu arah,
Tiada lagi orientasi, yang tersisa hanyalah sirnanya asa.
Adakah jalan yang kutempuh benar?
Sungguhkah terdapat kemuliaan di setiap jejaknya?
Kekecewaan, keputusasaan, dan kesedihan tiada lelah menaungi hati yang gelisah,
Kegelisahan yang meremukkan jiwa ketika diri ini tiba di persimpangan jalan,
Aku pun sadar, inilah waktu yang tepat untuk memutuskan,
Kelanjutan arah dari perjalanan ini,
Aku pun mengerti, harus ada yang terkorbankan,
Satu untuk yang lain.
Kaki ini mulai melangkah kembali,
Belaian anginnya masih sama seperti yang kemarin, hanya saja sekarang terasa lebih lembut,
Kerikilnya masih sama seperti yang kemarin, hanya saja sekarang terasa lunak ketika telapak kaki menyentuhnya,
Jalan ini pun masih mendaki seperti yang kemarin, hanya saja sekarang terasa lebih landai,
Senyatanya ini memanglah jalan yang kulalui kemarin,
Sejatinya aku tak mengubah arah sederajatpun,
Sesungguhnya akupun tahu, aku tak dapat mundur ataupun berganti arah lagi.
Benar, aku sedih atas sesuatu yang mesti terkorban,
Tak salah, akupun meneteskan air mata melepasnya,
Namun, bukankah Islam terlalu tinggi untuk dibandingkan dengan sesuatu yang rendah?
Dan ini benar.
Bukankah kemuliaan Islam takkan nyata tanpa pengorbanan dari mujahidnya?
Dan ini benar.
Maka, suatu keniscayaan bahwa jalan yang kutempuh adalah benar.
Dan kuyakin, inipun benar.
thanks for reading
Langganan:
Postingan (Atom)











- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact